niat dalam islam

Niat dalam Islam
(Setiadi, MKep)

A. Pengertian Niat
Niat secara bahasa adalah maksud dan keinginan hati untuk melakukan sesuatu. Niat menurut syariat adalah keinginan hati untuk menjalankan ibadah baik yang wajib atau yang sunnah dan keinginan akan sesuatu seketika itu atau untuk waktu yang akan datang juga disebut niat.

Niat menurut para salaf
1. Umar bin Khattab pernah berkata, “Amalan yang paling sempurna ialah dengan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan waro’ (hati-hati) terhadap segala yang di larang atau di haramkan oleh Allah -subhanahu wa ta’ala-, serta jujur dalam berniat maupun dalam beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-”.
2. Dikatakan oleh sebagian orang salaf, “Sungguh sesuatu yang bernilai kecil, akan menjadi besar nilainya jika dibarengi dengan niat yang baik. Dan begitu pula sebaliknya, sesuatu yang nilainya besar, akan menjadi kecil, itu semua tergantung pada niatnya”.
3. Yahya bin Abi Katsir pernah berkata, “Pelajarilah sebuah niat, karena niat tersebut lebih sulit apabila dibandingkan dengan amalan yang dia niatkan”.

Di jelaskan oleh para ulama tentang hakekat niat, diantaranya ialah yang dicantumkan di dalam kitab “Tazkiyatun Nufus”. Hakekat niat ialah bukanlah seseorang mengucapkan sesuatu yang keluar dari kedua bibirnya (seperti perkataan, ”Nawaitu : saya berniat…”), akan tetapi yang menjadi sebuah hakekat niat ialah dorongan hati yang senantiasa mengalir seiring dengan ketaatan kepada Allah, tetapi beberapa ulama mengatakan ucapan bibir bias digunakan untuk mendorong hati atau menguatkan hati dalam melakukan niat.

HR. Umar Bin Khototb
“Artinya : Sesunguhnya sah tidaknya sesuatu amal tergantung pada niatnya dan yang teranggap bagi tiap-tiap orang adalah apa yang ia niatkan”.
Niat merupakan salah satu pondasi jiwa seseorang, apabila baik niat seseorang dan diiringi dengan rasa ikhlas kepada Allah, maka baik pula amalan yang dia kerjakan. Dan sebaliknya apabila seseorang meniatkan sesuatu akan tetapi niat tersebut tidak dibarengi dengan rasa ikhlas, hanya berharap untuk mendapatkan sanjungan, pujian dari seseorang maka telah cukup baginya mendapatkan kesia-siaan yang dia dapatkan di dunia maupun di akhirat kelak. Karena pentingnya niat maka ulama meletakkan niat itu sebagi hukum pertama dalam semua ibadat, bahkan untuk membedakan antara ibadah dengan adat adalah dengan niat. Suatu perbuatan adat tetapi diniatkan untuk mengikuti tuntunan Allah dan rosulluloh SAW, maka ia berubah menjadi ibadah yang berpahala.
Dari hadits di atas kita pahami bahwasanya setiap orang akan memperoleh balasan amalan yang dia lakukan sesuai dengan niatnya. Dalam hal ini telah berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Setiap amalan yang dilakukan seseorang apakah berupa kebaikan ataupun kejelekan tergantung dengan niatnya. Apabila ia tujukan dengan perbuatan tersebut niatan/maksud yang baik maka ia mendapatkan kebaikan, sebaliknya bila maksudnya jelek maka ia mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan”. Beliau juga mengatakan: “Hadits ini mencakup di dalamnya seluruh amalan, yakni setiap amalan harus disertai niat. Dan niat ini yang membedakan antara orang yang beramal karena ingin mendapatkan ridla Allah dan pahala di negeri akhirat dengan orang yang beramal karena ingin dunia apakah berupa harta, kemuliaan, pujian, sanjungan, pengagungan dan selainnya”. (Makarimul Akhlaq, hal 26 dan 27)
Harus kita pahami juga, bahwa niat yang baik tidak bisa dipengaruhi oleh kemaksiatan. Dan tidak semestinya bagi seseorang yang masih awam untuk memahami hadis tersebut secara global saja. Bisa saja terbetik di dalam hati mereka, bahwa kemaksiatan akan menjadi sesuatu yang terpuji ketika dibarengi niat yang baik. Ini adalah persepsi salah yang harus di jauhi oleh masing-masing dari kita.

HR. Abdullah bin Abbas
“Sesungguhnya Allah mencatat hasanah (kebaikan) dan sayiat (kejahatan) kemudian menjelaskan keduaanya. Siapa yang berniat akan berbuat hasanah kemudian tidak dikerjakan Allah mencatat untuknya satu hasanah dan jika seseorang berniat kebaikan kemudian dikerjakan dicatat sepuluh hasanah dan mungkin ditambah hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu. Dan apabila seseorang berniat akan akan berbuat sayyiat (kejahatan) dan tidak dikerjakan Allah mencatat baginya 1 hasanah dan jika dikerjakan maka baginya satu sayyiat (kejahatan).

Harus kita pahami bersama, bahwa kesempurnaan ketaatan kepada Allah dan besarnya pahalanya mempunyai ikatan erat dengan niat. Pada hakekatnya, seseorang yang ingin beramal kebaikan, hendaknya ia mengharapkan pahala dari Allah -subhanahu wa ta’ala- semata. Maka, apabila seseorang meniatkan suatu amalan, dia niatkan untuk Riya’, maka amalan tersebut akan berubah menjadi sebuah kemaksiatan, padahal amalan tersebut dipandang sebagai amalan yang terpuji.

B. Hakikat niat
Beberapa hal yang bias dijadikan patokan dalam memulai perbuatan dengan niat adalah sebagai berikut:
1. Hukum niat dalam ibadah
Hukum niat dalam setiap ibadah adalah wajib.
Allah berfirman :
Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya..” (QS Al-Bayyinah : 5)
Artinya : “Setiap amalan-amalan (harus) dengan niat. dan setiap orang mendapatkan (ganjaran) sesuai niatnya.”
2. Tempat Niat
Tempat niat adalah didalam hati. jika seseorang berniat wudhu dalam hati kemudian dia berwudhu maka sah wudhunya walaupun dia tidak melafadzkan niat tersebut. dalam niat tidak diharuskan mengucapkan dengan lisan, akan tetapi cukup dalam hati. jika seseorang berniat dalam hati dan mengucapkannya dengan lisan maka lebih sempurna. karena niat adalah sebuah keikhlasan maka tempatnya adalah dalam hati. Sedangkan dalam Madzhab Malikiyah niat hanya dalam hati, karena Rosulullah -shollahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabatnya tidak pernah mengucapkan niat dengan lisan.
3. Apakah Niat itu Rukun atau Syarat dalam Ibadah?
Sebagian ulama berpendapat bahwa niat itu rukun dari sebuah ibadah, dan sebagian yang lain berpendapat bahwa niat itu syarat ibadah. akan tetapi mereka bersepakat bahwa ibadah itu tidak sah jika tanpa niat. seseorang yang berwudhu tanpa niat maka wudhunya batal.
wallahu a’lam

Iklan

Tentang adysetiadi

saya seorang dosen keperawatan di Stikes Hang Tuah Surabaya
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke niat dalam islam

  1. ambarukmiwati berkata:

    bila niat baik kita terhadap seseorang tidak diterima dengan baik oleh orang itu, apakah ada yang salah dengan niat kita pak?

    • adysetiadi berkata:

      niat itu di mulai pada awal kita mau berbuat, setelah berbuat maka kita harus iklas, jadi mungkin niatnya sudah benar tetapi mungkin kita masih belum iklas. yang namanya iklas itu sandaranya kepada Allah niat dibalas baik oleh orang lain atau dibalas jelek dalam jangkauan iklas tidak ada masalah yang penting kita sudah berbuat baik, toh nanti lama-lama orang yang kita niati baik akan baik juga kayaknya tinggal tunggu waktu aja, kok, thankiu

Komentar ditutup.